31 Oktober 2016

Depok, Aku Kembali


Cerita ini tentang Kelas Inspirasi ketiga yang saya ikuti. Alhamdulillah punya kesempatan ikut di Kelas Inspirasi Depok 3. Saya memilih Depok karena kota ini punya kenangan tersendiri (walaupun cuma sekitaran UI dan Margonda). Di Depok pertama kalinya saya jauh dari rumah, beajar hidup mandiri, menemukan teman-teman dari penjuru Indonesia, bertemu dengan sahabat-sahabat terbaik, dan bertemu dengan orang yang pernah saya sayangi.

Meskipun ikut di KI Depok, sekolah yang saya datangi ada di Sawangan, yang mana perbatasan antara Depok dan Ciputat bahkan lebih dekat ke Ciputat. Sekolah kami adalah MI Al-Hikmah di Bojongsari, Sawangan, Depok. Walaupun masih dekat dengan ibukota, sekolah ini keadaannya jauh berbeda dengan sekolah-sekolah di ibukota. MI Al-Hikmah belum memiliki lapangan, jumlah ruang kelas baru 5, dan bahkan kamar mandi pun berbarengan dengan kamar mandi mushola di sebelahnya.
Mandatory Wefie in the Class
Keterbatasan bukan menjadi alasan mereka untuk tidak semangat belajar.

Jujur, menghadapi anak-anak di sekolah ini tidak sesulit menghadapi anak-anak di Jakarta atau Pandeglang. Awalnya, dalam bayangan saya, anak-anak Depok ngga beda jauh dengan anak-anak di Jakarta. Tapi, ternyata mereka begitu sopan, begitu pendiam, dan begitu antusias dengan apa yang saya sampaikan. Yang berbeda di MI Al-Hikmah ini, untuk kelas besar seperti kelas 5 dan 6, barisan duduk antara siswa dan siswi dipisah, ya seakan ada hijab di antara mereka. Masya Allah, harusnya memang sudah diterapkan sedini mungkin bahwa harus ada hijab antara laki-laki dan perempuan.

Jam masuk sekolah dimulai pukul 7.30 WIB dan yang membuat saya tersentuh adalah mereka mengaji terlebih dahulu sebelum memulai jam pelajaran. Melihat hal ini, seakan mengingat kebiasaan saat SD, saya dulu sekolah di SD Islam dan selalu mengaji setiap pagi :). Di KI kali ini, karena jumlah rombel nya sedikit jadi saya hanya mengajar di 3 kelas. Alhamdulillah semua kelas berjalan lancar dan anak-anaknya cukup antusias. Mereka tidak malu untuk mau ke depan bercerita tentang apa cita-cita mereka. Mereka justru menyemangati teman-temannya yang berani maju ke depan kelas untuk bercerita :D

Anak-anak Indonesia adalah Anak-anak yang Berani
Agak sedikit mati gaya saya alami di kelas 2. Biasa, sudah menjelaskan materi, sudah senam, sudah tepuk-tepuk, sudah bernyanyi tapi waktu jam pelajaran masih panjang hahaha. Si anak-anak kelas 2 ini pun sama bersemangatnya mendengarkan penjelasan saya, tapi tiba-tiba ada yang bertanya "Ibu, kita kok belajarnya tidak menulis ya?" (dalam hati : oh iya anak-anak seumur ini lagi suka menulis ya) lalu saya jawab "Iya Nak, sama Ibu tidak menulis, kita main origami aja yuk!" Lalu semua bersorak-sorai bergembira bikin topi samurai mini dari origami~
Main Origamiiiiii~
Pada kelas terakhir, saya iseng meminta anak-anak untuk mengungkapkan perasaan mereka tentang kelas inspirasi di selembar kertas. Memang, lebih mudah mengungkapkan lewat tulisan bukan? Saat itu ada yang nyeletuk "Ibu saya jago bikin pantun, boleh ga?" "boleh, apapun yang kalian mau tulis silahkan tulis ya" Lalu seperti jleb diingatkan oleh pantun seorang anak kelas 5 SD :

Jangan menulis di atas kaca
Menulislah di atas meja
Jangan menangis karena cinta
Menangislah karena dosa

Buat saya ini sungguh menyentuh, di saat orang dewasa begitu pusing dengan peliknya dan rumitnya masalah cinta dan perasaan, apakah pantas menangisi perasaan? lebih baik ingat dosa lalu taubat~ 

Di akhir kelas juga, bukan pohon cita-cita, bukan kereta cita-cita, bukan bintang harapan yang kami berikan untuk mereka. Kami memberi kotak pos cita-cita, di mana mereka menulis surat yang isinya cita-cita mereka lalu dimasukkan ke kotak pos dan insya Allah akan diberikan ke orangtua mereka saat pembagian rapor :')
Semoga Suratnya Sampai ke Orangtua :')
Satu pertanyaan yang selalu tidak bisa saya jawab adalah ketika mereka bertanya "Ibu kapan kesini lagi?" cuma bisa tersentuh hatinya "Nak, ketika kamu dewasa kamu akan mengerti bahwa pertemuan dan perpisahan hanya Allah yang mengatur, semoga Allah berkenan ya Nak mempertemukan kita lagi" :") sayang cuma bisa dibatin, ga sanggup buat ngomong langsung sama anak-anaknya :(.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar