27 Oktober 2016

Ujian dan Ketenangan

Harap tenang, sedang ada ujian!

Kalimat di atas sering kita jumpai di sekolah saat-saat menjelang ujian. Mungkin saat sekolah dulu kalimat tersebut memiliki arti dalam konteks yang sebenarnya. Maksudnya, "lagi ada ujian, harap tenang dan jangan berisik, nanti bisa memecah konsentrasi yang sedang ujian". Selama ini mungkin kita memahami kalimat tesebut dengan arti yang sebenarnya.

Dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, kita akan ada di satu masa di mana ujian bukan datang dari sekolah, pelajaran bukan lagi dari orangtua atau guru, tapi semua itu datang langsung dari Allah. Dia langsung memberi ujian kepada kita dan pastinya di balik ujian itu ada hikmah yang bisa diambil supaya kita bisa naik derajatnya di sisi Allah. Harus diingat juga, ujian dari Allah akan terus ada selama kita hidup, selama kita beriman, dan pada akhirnya selesai sampai tiba waktunya kita dipanggil Allah untuk pulang.

Saya pernah nulis di sini tentang ujian dan cobaan dari Allah itu ada dua, yaitu ujian sabar dan ujian syukur. Bentuk ujian sabar dan syukur ini tentunya berbeda-beda untuk tiap waktu dan tiap orang. Ada yang diuji sabar terus, ada yang diuji syukurnya terus, dan ada yang bergantian antara sabar-syukur.

Semakin melihat ujian-ujian sabar dan syukur yang datang, saya menemukan kunci menghadapi semuanya itu adalah "ketenangan". Dari kecil memang saya punya masalah dalam menghadapi ujian (sekolah). Saya sering sakit kalo mau ada ujian, mau itu uts, mau itu uas, atau cuma ulangan harian biasa hahaha. Kayaknya walaupun saya berusaha ngga sakit, alam bawah sadar saya tetap tidak tenang jadinya ya malah sakit. Kejadian ini terus berlangsung sampai awal kuliah. Tantangannya makin besar karena saya ngekos jadi kalo mau ujian terus sakit repot kan. Latihan ketenangan menghadapi ujian saat kuliah semakin lama semakin baik. Alhamdulillah dikelilingi orang-orang yang senasib dengan tugas dan ujian kuliah yang numpuk sampe akhirnya yaudahlah cuek ajaaaa~ dan akhirnya sakit menjelang ujian tidak kambuh lagi.

Semakin tua, semakin menuju umur seperempat abad, ujian langsung dari Allah dan datangnya pun kadang tidak terduga. Saat datang ujian yang 'cukup besar' awalnya emang rungsing sendiri, bingung mau apa, bilang pasrah sama Allah cuma hanya sebatas kata-kata nyatanya susah. Sampai akhirnya berada di satu titik seperti benar-benar ngga ada jalan lagi, benar-benar merasa pasrah karena ngga tau gimana, dan saya menyebutnya titik terendah.

Saat di titik terendah itu, saya menemukan arti yang sebenarnya ketenangan menghadapi ujian dan merasakan kepasrahan yang bukan hanya kata-kata, tapi benar-benar berasa apa itu pasrah. Pokoknya jadi super tenang banget banget dengan apa yang akan terjadi kemudian. Kalo ada yang tanya kenapa bisa setenang itu padahal saya orangnya grasak-grusuk? saya tiap hari menanamkan pikiran positif kalo Allah pasti memberi rezeki untuk saya. Maka, di saat itulah Allah seperti tiba-tiba membuka pintu jalan keluar atas masalah tersebut secara tiba-tiba dan sampe kaget bisa secepat ini. Yes, see kalo Allah mampu membuat alam semesta dan isinya, maka menyelesaikan masalah kita pun akan mudah bagi Allah.

Rasanya, saya bisa menyimpulkan : ujian dari Allah datang, lalu Allah akan memberi jalan keluar ketika kita tenangkan hati, insya Allah berarti lulus ujian. Lalu, ujian yang lain (yang mungkin tingkatannya lebih tinggi dan lebih sulit) akan datang dan harus dihadapi.

Jadi intinya, kalo diuji ya berusahalah untuk tenang dan memohon kekuatan dari Allah untuk ketenangan hati. Insya Allah, kalo udah tenang, nanti ada jalan keluarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar