Kalau di cerita saya sebelumnya adalah tentang bagaimana perjalanan saya ke Pandeglang, kali ini saya menceritakan bagaimana ketika saya bertemu dengan anak-anak di SDN Kaduengang. Awalnya, setelah terpilih menjadi inspirator di KI Pandeglang, saya sempat maju mundur untuk ikutan karena ragu boleh ke sana sendiri dan karena saya sedang merasa tidak pantas untuk menginspirasi seperti sebelumnya hehe. Saya dengan nothing to lose tidak mengkonfirmasi untuk tetap lanjut, tapi ternyata saya dimasukan ke grup di SDN Kaduengang. Yes, the show must go on deh. Lagipula saya menjadi relawan tidak perlu menyebutkan sedang bekerja di mana, niat saya hanya menjaga mereka untuk tetap bermimpi, untuk memiliki cita-cita, untuk tidak putus sekolah, dan tentunya untuk mau membangun Indonesia.
Selamat Datang di SDN Kaduengang
|
Baiklah, dengan perbekalan mengajar yang masih disimpan dari KI Jakarta, di Pandeglang ini saya harus mengajar di empat kelas, yaitu kelas 4, 5, 1, dan 3. Dua kelas pertama berjalan lancar karena memang di kelas 4 dan kelas 5 sudah memahami tentang minyak dan gas, tentang sumber daya alam, dan tentang pabrik. Setelah materi saya berikan dan waktunya sesi tanya jawab, di kelas 4 dan kelas 5 saya banyak mendapat pertanyaan "Ibu teh rumahnya di mana?" "Ibu dari Jakarta ya?" "Ibu orang mana?" Iya, Ibu dari Jakarta dan alhamdulillah Ibu menginap di sekolah kalian yang pemandangannya bagus banget :').
Tantangan mengajar ada di dua kelas terakhir, yaitu kelas 1 dan kelas 3. Anak-anak kelas 1 ini masih imut-imut banget, Masya Allah seneng liatnya lucu-lucu. Untuk senjata mengajar di kelas 1 ini saya buat beda dengan kelas-kelas atas. Di kelas 1 memang saya berniat hanya mendongeng tentang dua orang anak dan membicarakan tentang cita-cita mereka. Yang seru di kelas 1 adalah saya mati gaya dengan waktu 45 menit hahaha. Kala itu saya udah mendongeng, udah senam, udah bernyanyi berbagai macam lagu anak, udah foto-foto, bahkan anak-anaknya saya ajari berhitung. Rasanya kalau nanti saya ikut KI lagi dan dapat jatah kelas 1, saya benar-benar harus breakdown saya harus gimana di kelas.
| Anak-Anak Kelas 1 Imut-Imut |
Kelas terakhir saya adalah kelas 3 yang berjumlah 56 siswa. Banyak banget kaaaan makanya seru :p. Anak-anaknya aktif, lebih banyak siswa laki-lakinya, dan jam terakhir. Mantap sekali kan? Saat lagi jelasin tiba-tiba ada yang udah pake tas mau keluar kelas, berantem rebutan bintang yang untuk menulis cita-cita, main ledek-ledekan, ah pokoknya seru :') sampai berkali-kali saya panggil, mereka memperhatikan sebentar, lalu main ledek-ledekan lagi. Akhirnya saya bilang ke mereka "nanti kalau kelasnya tidak bisa diam, kelas ini tidak difoto pakai kapal-kapalan yang terbang loh (baca: drone)" eh ada anak laki yang nyeletuk dengan bahasa Sunda (saya ngerti artinya tapi ngga tau ngomongnya gimana :P) "Bu, kalo kapal nya nanti nyangkut di tanah cengkeh gimana?" Naaaak ada-ada aja hahaha.
Tanah cengkeh? iya maksud anak itu adalah kebun cengkeh. Sebagian besar orangtua mereka bekerja sebagai buruh tani di kebun cengkeh. Iya, di sekitar gunung Karang ini banyak kebun cengkeh yang dijadikan mata pencaharian warga sekitar. Jadi, anak-anak di sana suka membantu orang tua mereka bekerja di kebun cengkeh sepulang sekolah. Bahkan, di SD lain bukan di Kaduengang, kalau sedang musim panen sekolah nya sepi, anak-anak lebih memilih membantu orang tuanya untuk panen :'(. Masih tega Pak Menteri kalau peraturan full day at school diberlakukan? :(
| Anak-Anaknya Serius Banget :') |
Di kelas inspirasi kali ini, saya lebih banyak membahas tentang menanamkan cita-cita dan menyemangati untuk tidak putus sekolah dibandingkan dengan menjelaskan lebih banyak tentang profesi insinyur. Memang mereka banyak yang belum tau tentang insinyur dan tidak banyak yang mau jadi insinyur. Kebanyakan dari mereka masih ingin menjadi dokter, tentara, dan guru. Nah, yang lain di Pandeglang ini adalah banyak yang mau jadi ustadz dan kyai. Kalau kata teman saya, mungkin karena di Banten banyak pesantren, jadi mereka mau jadi kyai. Alhamdulillah, semoga tercapai ya Nak dan bisa berdakwah secara luas. Yang saya tanamkan ke mereka tentang sebuah cita-cita adalah "Kalian boleh mau jadi apa saja, asalkan itu baik, syaratnya ada empat jika mau cita-citanya tercapai. Kalian harus jadi orang jujur, mandiri, pantang menyerah, dan selalu bekerja keras. Dan satu yang penting, kalian jangan putus sekolah".
| Relawan & Guru. Sampai Ketemu Lagi :') |
Terakhir, kesan yang mengena dari kelas inspirasi kali ini adalah lokasi sekolahnya. Bersyukur banget dapat sekolah yang bagus pemandangannya :'). Selain itu, salut sama anak-anaknya, semangat sekolahnya walaupun keadaannya terbatas, udara pagi yang super dingin, dan jalan akses menuju sekolah yang cukup curam tanjakannya. Malu deh anak kota yang masih malas sekolah padahal tiap hari diantar naik kendaraan bermotor :p
| Berhasil Bikin Barisan Ini Lagi yeaaah :D |
Terimakasih SD Kaduengang, Terimakasih Pandeglang :")
Komentar
Posting Komentar