21 April 2017

Hari Kartini dan Usia Seperempat Abad



Kalau kita sudah memasuki bulan April, apa yang identik dengan bulan ini? Semua pasti setuju, jawabannya adalah Hari Kartini. Hari Kartini ini identik dengan perjuangan RA Kartini tentang emansipasi wanita, tentang mengusahakan kesetaraan pendidikan antara wanita dan pria pada zamannya. Di zaman sekarang, Hari Kartini hanya identik dengan perayaan-perayaan, mulai dari perayaan memakai baju daerah di TK sampai banyaknya diskon di mal-mal dalam rangka menyambut Hari Kartini. Di balik perayaan-perayaan itu, adakah yang masih sadar dan merefleksikan makna emansipasi yang sebenarnya?

Menurut pengamatan saya, makna emansipasi yang diterima masyarakat luas adalah wanita dan laki-laki harus setara, dan menurut saya bukan seperti ini emansipasi yang dicanangkan Ibu Kartini pada zamannya (bagi yang tidak setuju, boleh saja, karena ini menurut pandangan saya). Bagi Ibu Kartini memperjuangkan hak perempuan untuk mendapat pendidikan yang setara dengan laki-laki pada zamannya supaya para perempuan bisa menjalankan tugasnya sebagai pendidik anak-anaknya dengan lebih baik lagi. Seperti surat Ibu Kartini berikut ini:

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita., agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (surat kepada Prof. Anton dan Nyonya Abendon, 4 Oktober 1902).

Dalam agama Islam pun diajarkan bahwa laki-laki dan perempuan itu tidak setara. Laki-laki adalah pemimpin dan pelindung bagi perempuan. Se-mandiri apapun seorang perempuan, pasti ia membutuhkan pemimpin, membutuhkan laki-laki. Tugas perempuan adalah menjadi sebaik-baik perempuan yang mendukung laki-laki mereka atau bahkan perempuan yang berusaha meringankan hisab laki-laki yang mereka sayangi (ayah, suami, anak laki-laki, atau saudara laki-lakinya). Oleh karena itu, laki-laki tidak perlu minder jika melihat perempuan kalian bersemangat untuk belajar atau memperbaiki dirinya. Di balik perempuan yang semakin tinggi ilmunya, semakin baik akhlaknya, mereka akan semakin mengerti peran dan kodrat mereka.

Sebagai seseorang yang suka membaca kisah Ibu Kartini, di Hari Kartini ini saya ingin sekali menuangkan pemikiran bahwa emansipasi yang dicanangkan Ibu Kartini bukanlah emansipasi yang menuntut kesetaraan hidup antara laki-laki dan perempuan, seperti yang dicanangkan oleh aktivis feminisme. Tahukah kalian bahwa aktivis feminisme memang mendukung emansipasi yang dilakukan oleh Ibu Kartini, tapi ada satu hal yang mereka tutupi, yaitu mereka tidak suka pada Ibu Kartini yang pro terhadap poligami. Di sini bisa terlihat juga bahwa pemikiran Ibu Kartini selama masa hidupnya juga berdasarkan ajaran agamanya, agama Islam. Dalam Islam, poligami diperbolehkan dan bagi seorang muslimah, ikhlas dalam poligami akan mengantarkan mereka mendapatkan tiket surga. Tapi, bukan berarti saat ini saya bisa menerima poligami lho, walaupun hadiahnya surga, insya Allah masih banyak jalan lain menuju surga hehe.

Selain itu, di Hari Kartini ini saya ingin merefleksikan sebagai renungan tentang seperempat abad kehidupan Ibu Kartini. Seperti yang kita tahu, Ibu Kartini meninggal pada usia 25 tahun, sebelum beliau sempat menikmati hasil perjuangannya memajukan pendidikan bagi para perempuan. Tugas beliau di dunia hanyalah seperempat abad, tapi pemikiran beliau abadi bertahun-tahun berikutnya. Begitulah seharusnya seorang wanita, kecantikan hati dan pikiran lah yang harusnya dimiliki, bukan hanya fisik. Kecantikan fisik suatu hari akan memudar, tapi kecantikan hati dan pikiran? bisa diajarkan dan diwariskan ke anak-anaknya sehingga akan abadi bertahun-tahun kemudian.

Dalam hidup 25 tahun bagi Ibu Kartini sudah bisa mengubah nasib kaumnya, bermanfaat bagi sekitarnya, dan jasanya dikenang sampai sekarang. Hal ini seakan menjadi refleksi bagi saya yang kebetulan berusia seperempat abad di Hari Kartini tahun ini. Saya seakan berpikir "apa yang sudah saya lakukan dalam 25 tahun hidup saya?", "Apakah dulu Ibu Kartini juga mengalami quarter-life crisis seperti saya?"

Selama ini saya menceritakan bulan April dan hari ulangtahun sebagai sebuah tulisan yang biasa-biasa saja, hanya sekadar perayaan. Di usia seperempat abad ini saya ingin membuat tulisan yang sedikit "berbeda". Tidak mudah saya mencapai usia seperempat abad, apalagi setahun ke belakang ini. Di titik ini sepertinya Allah memutuskan menguji saya secara langsung, sehingga sepertinya saya juga mengalami "krisis seperempat abad".

Dalam pencapaian usia seperempat abad ini memang saya masih jauh dibandingkan pencapaian Ibu Kartini dalam kebermanfaatannya. Di usia seperempat abad ini saya tidak meminta umur yang panjang (karena Allah sudah menetapkan umur manusia kan?), saya hanya ingin diberi keberkahan di sisa umur saya. Saya hanya ingin menjadi manfaat bagi sekitar saya, seperti Ibu Kartini. Saya hanya ingin terus belajar menjadi sebaik-baiknya perempuan yang bisa mendukung laki-laki saya di dunia dan meringankan hisabnya di akhirat nanti.

Aamin Ya Rabb :)

Selanat Hari Kartini dan semoga yang banyak disebut sebagai "Kartini Masa Kini" memang benar-benar perempuan yang cantik hati dan pikirannya untuk menjalankan kodratnya, yaitu menjadi pendidik paling pertama bagi anak-anaknya.



 

2 komentar:

  1. Sebab sebaik-baiknya hidup, sesingkat apapun, adalah yang bermanfaat buat sekitarnya. :))

    Nice writing....
    www.iamandyna.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuul sekali, yang penting bermanfaat bagi sekitar :)

      Terimakasih sudah mampir

      Hapus