3 Agustus 2017

Menjadi Orang Yang Sederhana Saja

Pernah suatu hari membahas tentang ini sama sahabat-sahabat saya di grup kami:

"kadang gue mikir, si A udah jalan-jalan ke sana ke sini. Si B punya mobil ini. Si C punya rumah" 

(Sebagai manusia normal, menurut saya ini adalah hal yang wajar, ketika kita menginginkan sesuatu hal yang berwujud duniawi, apalagi semua itu dengan mudahnya kita lihat di sosial media teman-teman kita. Tapi, jangan sampai ya melihat postingan itu menjadikan penyakit di hati kita).

Lalu, pembahasan berlanjut ke saling mengingatkan:

"yaaah semua yang terlihat mewah, apa yang kita miliki semua ga dibawa mati kok"
"setiap orang punya rezekinya masing-masing dan rezeki ga harus berupa harta"
"ingat loh apa yang kita miliki di dunia ini, semua akan diminta pertanggungjawaban, jadi mending kita jadi orang sederhana aja".

Begitu pula yang ditanamkan orangtua saja sejak kecil, menjadi orang yang sederhana saja.

Untuk menjadi orang yang sederhana, saya pernah berdiskusi dengan mama saya, jadi orang sederhana itu harus pintar mengatur hidup dan standar hidupnya (bukan kita yang diatur standar hidup). Bagaimana mengatur itu semua? kuncinya adalah disiplin pada diri sendiri.

Sejak kecil, saya tidak dibiasakan hidup dengan barang-barang branded hanya untuk mengikuti tren yang ada, semua barang-barang saya dibeli berdasarkan kebutuhan. Maka dari itu, sampai sekarang saya tidak familiar dengan merk-merk fashion yang diagung-agungkan. Pun untuk membeli sesuatu yang saya inginkan, beli novel misalnya, saya harus menyisihkan uang jajan saya setiap hari sampai akhirnya uangnya terkumpul untuk membeli novel tersebut.

Terbiasa disiplin untuk menyisihkan uang ketika menginginkan sesuatu ini berlanjut sampai akhirnya saya punya penghasilan sendiri. Yang namanya punya penghasilan sendiri, tentunya saya bebas mau dipakai untuk apa kan? nyatanya saya tidak bisa seperti itu. Saya akan membeli sesuatu yang saya butuhkan ketika saya sudah mampu membeli. Kalau barang itu harganya cukup mahal, saya akan menyisihkan penghasilan saya setiap bulannya sampai jumlahnya cukup untuk membeli barang tersebut, because I will always regret credit card or something like that.

(jadi jangan menganggap saya orang 'berada' karena suka lihat kalau mau beli sesuatu tinggal beli hehe. Di balik itu semua, ada perjuangan menabung untuk mendapatkan yang diinginkan :p)

Kembali pada diskusi bersama mama saya tentang menjadi orang yang sederhana saja,

Saya dan mama memiliki kesamaan, yaitu suka menikmati naik transportasi umum. Saya pernah sedikit curhat karena suka ditanya "kenapa sih ga beli mobil sendiri?", "kenapa ga bawa kendaraan aja kalau kerja?", dan sebagainya. Rasanya risih aja ditanya hal yang kurang penting bagi saya. Iya, memang nyaman dan bebas kalau bisa naik kendaraan sendiri ke mana-mana, tapi ini di Jakarta...... bisa pusing sendiri sama macetnya hahaha. Saya lebih menyukai menggunakan transportasi umum karena saya bisa berinteraksi dengan orang sekitar, mulai dari sesederhana berinteraksi dengan abang ojek sampai berinteraksi dengan orang-orang yang tidak sengaja bertemu di kereta. Selain itu, menggunakan transportasi umum secara tidak langsung mengajarkan saya untuk disiplin terhadap waktu. Jadi, saya terlatih untuk bisa memperkirakan waktu perjalanan saya sendiri, disiplin waktu karena harus mengikuti jadwal kereta, sampai belajar disiplin menghargai waktunya si abang ojek supaya beliau tidak terlalu lama menunggu.

Akhirnya, diskusi saya dan mama berakhir pada kesimpulan; kembali lagi pada pilihan, kalau kita suka bersederhana dengan naik transportasi umum, banyak yang bisa kita ambil pelajarannya, terutama tentang menghargai waktu, ya kaaan? :) Karena kalau sering naik kendaraan sendiri, pasti kita cenderung lebih santai-santai kalau mau pergi, tidak perlu lah gengsi harus naik kendaraan sendiri hehe.

Jadi, untuk hidup di dunia ini sebenarnya mudah kok, cukup menjadi orang yang sederhana dan menjaga keteraturan dalam hidup sehari-hari. Agama saya, Islam, pun mengajarkan bahwa Rasulullah SAW hidup di dunia dalam kesederhanannya. Islam juga mengajarkan disiplin dan keteraturan dalam hidup melalui perintah shalat lima waktu :). Tidak perlu membesarkan gengsi untuk bisa pergi ke sana dan ke sini, tidak perlu juga minder kalau kita 'terlihat' belum punya apa-apa.



(semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat ketika saya terlalu berpikir tentang dunia hehe).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar