Piknik Melepas Penat di Pramuka

Tak perlu pergi jauh dari Jakarta untuk sekadar melepas penat di akhir pekan, karena ada beberapa tempat wisata yang menarik di sekitar ibukota. Bersama dengan #GengPiknik kelompok Kelas Inspirasi Jakarta, kami merencanakan sendiri untuk berpiknik ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Kami sengaja tidak menggunakan jasa open trip karena kebetulan ada salah satu anggota geng yang bekerja di Pulau Pramuka. Semua persiapan, mulai dari perhitungan biaya, jadwal kegiatan, makanan yang mau dibawa, sampai dresscode pun kami persiapkan sendiri melalui diskusi di grup.


Pulau Pramuka, adalah salah satu pulau besar di gugusan Kepulauan Seribu. Awalnya, Pulau Pramuka bernama Pulau Elang, karena jambore pertama dilakukan di pulau ini, maka Pulau Elang pun berganti menjadi Pulau Pramuka. Pulau Pramuka ini merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Seribu, jadi sarana dan prasarana yang ada di pulau ini cukup lengkap. Untuk menuju ke Pulau Pramuka bisa menggunakan kapal dari Pelabuhan Kaliadem, Marina Ancol, atau Pelabuhan Sunda Kelapa. Sesuai dengan budget kami, perjalanan ke Pulau Pramuka kali ini dimulai dari Pelabuhan Kaliadem.

Salah satu keberuntungan kami dalam perjalanan kali ini adalah salah satu dari kami ada yang tinggal di Pulau Pramuka, jadi sudah tidak asing dengan cara pembelian tiket kapal di Pelabuhan Kaliadem. Saat itu, kami beruntung sekali bisa mendapat slot untuk naik kapal Dinas Perhubungan, bukan kapal lokal. Meskipun demikian, menurut saya masih banyak yang perlu dibenahi dari sistem pembelian tiket di Pelabuhan Kaliadem, baik kapal dishub maupun kapal nelayan lokal.
KM Catamaran, lumayan cepat, lumayan ber-AC, dan harganya lumayan lebih murah dibandingkan kapal dari Marina Ancol
Sebenarnya, di Pulau Pramuka hanya menjadi tempat persinggahan, makan, jajan, dan bercegkrama. Untuk wisata, kami menyewa kapal kayu lagi untuk berkeliling di sekitar Pulau Pramuka. Destinasi pilihan kami saat itu adalah Pulau Pasir, Pulau Air, spot snorkeling, Pulau Semak Daun, dan Keramba.

Tujuan pertama kami adalah pasir timbul atau Pulau Pasir. Pulau Pasir ini adalah daerah pasir yang mencuat di tengah-tengah lautan. Sangat menarik untuk berjemur, bermain air, dan berfoto-foto karena pemandangannya bagus sekali. Banyak teman-teman saya yang bertanya pasir timbul ini ada di mana dan ketika saya jelaskan ini hanya di Kepulauan Seribu, banyak juga yang terkejut.
Tujuan berikutnya adalah Pulau Air yang sebenarnya hanya daratan dibelah oleh lautan. Daratan di sekitar Pulau Air ini konon katanya adalah pulau-pulau buatan hasil reklamasi. Ketika melintasi lautan di Pulau Air ini, kapal kami sengaja melambat untuk memberi kesempatan kami berfoto di tempat yang memang sangat fotoable. Di tempat ini, juga banyak yang masih kurang percaya kalau di Kepulauan Seribu ada tempat yang seperti ini.
Dari Pulau Air, kami menuju ke spot snorkeling yang tidak jauh letaknya dari Pulau Air. Mungkin keindahan terumbu karang dan pemandangan bawah laut di Kepulauan Seribu masih jauh dibandingkan tempat lain, tapi bagi saya, mereka tetap indah!. Karena saya termasuk orang yang menikmati momen dan bukan orang yang jago mengambil foto, jadi saya benar-benar menikmati snorkeling saya dan bermain bersama ikan-ikan.

Setelah puas dan lelah snorkeling, kami dibawa menuju ke Pulau Semak Daun. Pulau Semak Daun merupakan pulau yang tidak berpenghuni dan tidak ada bangunan untuk penginapan. Jadi, bagi yang ingin menginap di Pulau Semak Daun harus membawa tenda sendiri. Di Pulau Semak Daun ini kami menghabiskan waktu untuk sekadar berfoto-foto, belajar berenang, dan belajar free dive di lokasi laut yang tidak terlalu dangkal dan tidak terlalu dalam.

Destinasi terkahir kami sore itu adalah Keramba. Keramba ini merupakan tempat penangkaran ikan, termasuk ikan hiu. Sebenarnya kegiatan kami di Keramba hanyalah melihat-lihat ikan sebentar dan tidak lama kemudian kami memutuskan untuk kembali ke Pulau Pramuka.
Di perjalanan kembali menuju Pulau Pramuka, matahari sudah semakin turun, sehingga sore itu kami bisa menikmati sunset dari kapal. Selain dari kapal, saya juga masih bisa menikmati sunset dari Pulau Pramuka dan mendapatkan sunset dengan penampakan yang berbeda dengan di kapal.
Senja : "Kadang ia merah merekah, kadang ia hitam kelam. Tapi langit selalu menerima apa adanya" - Sore, Istri Dari Masa Depan 

Kemudian, sisa hari kami di Pulau Pramuka dihabiskan dengan bercengkrama, mengobrol sana-sini, curhat-curhat colongan, sampai diskusi sejarah yang lumayan berbobot. Selain bercengkrama bersama, kami juga menghabiskan waktu untuk berkeliling Pulau Pramuka dengan naik odong-odong yang dikenal sebagai kendaraan lokal Pulau Pramuka. Cukup menghabiskan waktu tidak lebih dari 30 menit untuk mengelilingi seluruh sudut Pulau Pramuka menggunakan odong-odong. Kami juga berolahraga pagi dengan nyemplung lagi ke laut di sekitar dermaga Pulau Pramuka. Di tempat ini juga ada spot untuk latihan free dive dan pemandangan bawah lautnya juga masih bagus untuk dinikmati.

Ternyata, tidak jauh dari Jakarta yang (katanya) setiap hari membuat penat, kita bisa sejenak menenangkan pikiran. Dan sesungguhnya, tidak menyangka bisa melakukan traveling sederhana namun penuh dengan kehangatan bersama #GengPiknik. Semoga setelah ini akan terus ada acara-acara piknik selanjutnya!




t y a s p u t e r i
Pulau Pramuka, 30 September 2017

Komentar

  1. Ini yang trip bareng Kak Hilton juga bukan nih? Ahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaah kak Ayu, itu ka Hilton loncat paling depan hahaha

      Hapus

Posting Komentar