Ayah, Aku Tidak Cantik

Sudah beberapa waktu yang lalu ingin menulis cerita pendek di blog ini. Tujuannya adalah ingin lebih menggali ide dalam menulis aja sih. Sebelumnya saya memang belum pernah menulis cerpen, di mana selama ini ya menulis saja apa yang saya inginkan. Akhirnya, saya mencoba sesuatu yang baru, mulai menulis cerpen tapi memiliki satu tema besar, yaitu Aku dan Ayah. 

Nah, untuk judul Ayah, Aku Tidak Cantik ini adalah cerita pertama tentang Aku dan Ayah yang saya tulis di instagram beberapa hari yang lalu sebagai partisipasi dalam #30HariBercerita dan ternyata mendapatkan feedback yang baik dari para pembacanya. Jadi, untuk memulai langkah menulis cerpen di blog, maka saya menulis kembali cerita Ayah, Aku Tidak Cantik di sini. Selamat membaca! Doakan semoga segera ada ide-ide baru tentang Aku dan Ayah.

*************



"Ayah, dulu kenapa Ayah bisa suka sama ibu?," tanyaku di suatu sore.
"Sesederhana karena ayah selalu melihat ibumu bermain dengan anak-anak di sekitar rumahnya, membantu nenekmu belanja, dan bagaimana ibumu aktif di kegiatan karang taruna," jelas ayahku sambil tersenyum.

"Masih ada ngga ya, laki-laki yang seperti ayah," gumamku.
"Memang kenapa Nak?," tanya ayah.
"Ayah, aku tidak cantik, mungkin tidak ada yang tertarik padaku. Bahkan teman-teman di sekolah bilang aku tidak pantas bernama Bunga, karena bunga itu cantik," jelasku panjang lebar.

"Nak, coba kau perhatikan, apa yang diambil lebah dari bunga? Apa dia memilih bunga yang cantik untuk diambil madunya?," tanya ayahku dan aku hanya menggelengkan kepala, tidak tahu.

"Lebah itu mengambil isi dari bunga, yaitu madu karena itulah manfaatnya untuk dirinya sendiri dan untuk orang banyak. Cantiknya kelopak bunga hanya menarik untuk dipandangi sesaat, lalu akan layu dimakan waktu," kata ayah.

Aku terus memperhatikan ayahku berbicara, "Yang terpenting dari seseorang adalah bagaimana isi hati dan pikirannya dapat memberikan manfaat bagi dirinya dan sekitarnya. Cantiknya anak perempuan itu terpancar kalau hatinya baik, pikirannya cerdas, dan santun perilakunya," ayah mengambil jeda sejenak.

"Andai saja mereka mengenal anak ayah seperti ayah mengenalmu, bagaimana perilakumu pada ayah, ibu, dan keluargamu, bagaimana kecintaanmu pada buku dan pengetahuan, serta sejauh mana ilmu agama yang ada di dalam dirimu. Ayah yakin mereka akan malu telah menilaimu hanya dari kecantikan wajah," kata ayah sambil tersenyum.

Saat itu pula kupeluk ayahku dengan erat, tanpa ada rasa ingin melepasnya.

"Suatu hari akan ada laki-laki yang hatinya kuat akan jatuh hati padamu karena hatimu Nak, bukan hanya tertarik pada kecantikan wajah. Ayah sangat yakin," kata ayah menutup perbincangan sore itu.


***************

Komentar

  1. suka suka suka ... panjangin lagi mba...jadi cerpen beneran. Bikin plotnya (enak ya nyuruh2.. sendirinya ga bisa). hihihihi ... semoga dapet ide ya mba buat kelanjutan atau perluasan cerita di atas utk jadi cerpen ..aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi aamiin semoga segera punya ide-ide lain untuk manjangin cerita :)

      Terimakasih kak sudah mampir

      Hapus

Posting Komentar