Bagi yang tahu daerah Kabupaten Subang, pasti tahu kalau kabupaten ini cukup luas. Areanya mulai dari pegunungan yang dingin di daerah Ciater sampai pesisir pantai yang terik di daerah Blanakan. Ya, Blanakan adalah suatu daerah di pesisir Pulau Jawa yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Ketika Memaksimalkan Akhir Pekan di Cirebon, kami sempat mampir ke Blanakan di perjalan pulang untuk mengujungi rumah ayah salah satu anggota #gengpiknik.
![]() |
| Pesisir Pantai di Blanakan |
Perjalanan dimulai dari Cirebon melalui tol Cipali. Untuk menuju ke Blanakan, kita harus keluar tol di Kalijati, Subang. Kemudian menuju ke arah Pasar Sukamandi (pasar yang pada zaman masih mudik melewati jalur pantura lama menjadi sumber kemacetan di Subang). Dari Pasar Sukamandi, kita melewati jalur pantura ke arah timur dan tidak jauh dari Pasar Sukamandi, tepatnya di daerah Ciasem, ada jalan menuju ke Blanakan. Dari jalur pantura menuju Blanakan sendiri masih ada jarak 8km yang harus dilalui.
Suasana perjalanan dari Cirebon ke Blanakan ini seru sekali. Selain chit-chat, nyemil, dan tidur, kami juga menikmati pemandangan selama perjalanan. Mulai dari pemandangan padang rumput, hutan jati, kebun tebu, sawah, dan yang paling menarik hati adalah kebun teratai di pinggir jalan!
![]() |
| Kebun Teratai di Pinggir Jalan |
Jadi, ada saatnya kami semua sedang asik mendengarkan ummi (@hadisetyodiny) mendongeng dan menyanyi tentang Ande-Ande Lumut. Ketika fokus tepuk tangan di akhir dongeng, tiba-tiba di sebelah kiri jalan sepintas kami melihat kebun teratai. Menariknya lagi, bunga teratainya banyak dan sebagian sedang mekar. Dengan random-nya, pingin banget dong balik lagi untuk melihat dan foto-foto si bunga teratai. Untungnya, bapak @hiltondoang dengan baik hati mau putar balik ke kebun teratai :"). Kebun teratai ini letaknya di sebelah tempat cuci mobil, jadi kami harus basa-basi izin dahulu mau foto-foto bunga teratai dan untungnya diizinkan. Sedangkan si bapak bisa parkir di depan tempat cuci mobil. Dengan riang gembira (serius diputerin balik buat lihat bunga teratai aja seneng!), saya bersama yang lainnya langsung turun untuk mengambil gambar. Memang ya, kalau sama #gengpiknik ini suka melakukan hal-hal sederhana, tak terduga, tapi selalu berhasil membuat bahagia :").
Sekitar menjelang siang, kami tiba di Blanakan. Istirahat sebentar di rumah, kami langsung menuju muara yang tidak jauh. Muara ini sebenarnya adalah tempat konservasi buaya, jadi untuk masuk ke sana ada uang retribusi yang harus dibayarkan. Kalau tidak salah tiketnya Rp 10.000 per orang. Sayang sekali, tempat wisatanya masih belum dimaksimalkan jadi masih terkesan kurang menarik.
Di Blanakan ini ada tempat pelelangan ikan dan banyak sekali kapal nelayan yang sedang parkir di pinggir muara sungai. Nah, alhamdulillah sekali kami ke sana sudah disiapkan ikan bakar untuk makan siang di salah satu rumah makan yang ada di tempat konservasi. Sepertinya, ikan yang mau dibakar dibeli terlebih dahulu lalu dibawa ke tempat makan untuk dibakar dan dihidangkan. Ikan yang dibakar adalah ikan jenis baru buat saya, namanya ikan Etong. Tidak paham ini ikan jenis apa, tapi katanya mirip ikan Ayam-Ayam dan yang jelas ikannya enak! hahaha. Menariknya lagi, di dalam tubuh ikannya ada semacam bagian yang katanya gelembung dan kalau dikeringkan harganya bisa Rp 400.000 per kilo. Wow!. Lucunya lagi, di pipi ikan ini juga banyak dagingnya, jadi kayaknya waktu hidup ikan ini pipinya tembem :D.
Habis makan banyak maka terbitlah mengantuk. Masih ada waktu sebelum harus kembali ke Jakarta, jadi kami manfaatkan untuk istirahat sejenak. Perjalanan ke Jakarta memang ditargetkan maksimal setelah ashar, supaya tidak terlalu malam sampai di Jakarta. Sekitar pukul 3 sore, akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Tidak lagi melalui Ciasem untuk menuju pantura, kami melewati Cilamaya yang ternyata sudah dekat dengan jalan ke Karawang. Untungnya, perjalanan Minggu sore kala itu tidak macet, sehingga kami sampai di Jakarta ketika masih ada matahari.
![]() |
| Ikan Bakar yang Super Enak~ |



Komentar
Posting Komentar