Tulisan ini dibuat di sela-sela istirahat jam kantor.
Tentang sebuah pandangan seorang wanita single yang sedang menikmati berkarir
sambil berkuliah.
![]() |
| Gambar dari: http://picspeaks.com/polls/housewives-vs-working-women/ |
Saya terlahir dari seorang Ibu yang bekerja dan bahkan
sampai saat ini mama saya pun masih bekerja. Dalam segi apapun, mama adalah
role model saya dalam hal apapun. Menurut saya, mama adalah salah satu wanita
yang berhasil menjadi working mom. For sure. Meskipun demikian, kedua orangtua
saya tidak pernah memaksa saya apakah saya harus bekerja sampai tua atau
menjadi ibu rumah tangga. Murni semua adalah pilihan saya. Bahkan, ketika saya
memutuskan untuk kuliah lagi dan tidak bekerja, mereka pun tidak mempermasalahkan
hal tersebut.
Namun, di satu sisi, saat pertama bekerja dulu, saya berniat
untuk bekerja dulu selama masih single, kalau sudah bersuami saya ingin di
rumah saja. Bahkan, cita-cita saya adalah resign dengan alasan mau mengurus
anak, tapi nyatanya sampai di perusahaan keempat saya bekerja, alasan resign
saya masih jauh dari itu hahaha!
Pada dasarnya, saya pun sudah belajar dan menyiapkan diri
saya untuk menjadi wanita bekerja sekaligus mengurus keluarga. Saya memang
belum menikah/berkeluarga, tapi saya sudah punya keluarga yang terdiri dari
mama, papa, dan adik-adik saya. Sebisa mungkin saya membantu mama menyiapkan bahan
untuk sarapan untuk kami di malam hari setelah pulang kantor, bangun sebelum
subuh dan memasak sarapan, lalu bersiap untuk kerja. Tapi, masih ada keinginan
dalam diri ini untuk nanti setelah punya anak, ya di rumah saja mengurus anak.
Mengenal dunia kerja yang dikelilingi ibu-ibu muda yang
punya anak kecil, membuat pola pikir saya meluas. Sepertinya kehidupan menjadi
working mom itu menarik, walaupun memang banyak tantangannya. Saya seperti
diberi kesempatan untuk terus mempersiapkan diri sendiri untuk tetap bisa
bekerja walau sudah punya anak. Apa niat saya untuk di rumah saja mengurus anak
kalau sudah menikah akhirnya luntur begitu saja? Belum, karena saya pun belum
tau akan bagaimana kehidupan saya setelah menikah, pun belum terlihat siapa
jodohnya, atau pun belum tau apakah umur saya sampai mendapat kesempatan untuk
menikah dan punya anak.
Yang jelas, untuk saat ini saya kagum dengan perjuangan
ibu-ibu yang bekerja, apalagi mereka yang masih menyusui. Saya ingin sedikit
banyak mengambil ilmunya, sedikit banyak belajar untuk mempersiapkan diri saya.
Sungguh, saat ini saya sangat menikmati waktu bekerja dan berkarir, belajar
sebagai mahasiswa, sekaligus belajar dalam mempersiapkan diri. Alhamdulillah.
Perihal pilihan menjadi wanita yang bekerja, sebenarnya
tidak ada yang salah menurut saya. Setelah menikah, mau bekerja atau menjadi
ibu rumah tangga murni tergantung dari keridhoan suami. Sebelum menikah pun
begitu, untuk jadi wanita yang bekerja sebenarnya tergantung keridhoan dari
ayah dan ibu kita. Karena jika mereka ridho, insya Allah, akan membawa
keberkahan dan ridho Allah.
Apapun pilihan seorang wanita, kita tidak bisa men-judge
bahwa wanita bekerja lebih baik atau wanita menjadi ibu rumah tangga lebih
mulia. Yang perlu kita pahami hanyalah wanita yang baik pasti memikirkan
bagaimana ia bisa meringankan hisab laki-laki yang dicintainya, yaitu suaminya,
ayahnya, saudara laki-lakinya, maupun anak laki-lakinya. Apapun pilihan saya
nanti, apapun pilihan teman-teman wanitaku, semoga kita selalu ingat bahwa kita
harus tetap berada di belakang dan menjadi makmum terbaik dari imam kita, jangan sampai menjadi fitnah dunia dan menambah dosa laki-laki yang kita cintai.

Komentar
Posting Komentar