Sebelum berangkat, saya banyak mencari-cari tentang bagaimana suasana Ramadhan di tanah haram. Semakin mencari, semakin saya excited untuk berangkat. Apalagi mendengar cerita kakek-nenek dan om yang sebelumnya juga sudah pernah umroh di bulan Ramadhan, pokoknya penasaran sekali menjalani ibadah puasa di sana. Saat sebelum berangkat, salah satu yang saya impikan adalah thawaf di sepertiga malam terakhir. Walau kata orang penuhnya luar biasa, tapi siapa sih yang mau melewatkan momen berdoa di depan ka'bah di bulan Ramadhan dan di sepertiga malam?
Kami mengurus persiapan keberangkatan di waktu yang cukup singkat, karena memang entah kenapa rencana umroh dari mama-papa ini cukup mendadak. Alhamdulillah, semua persiapan dilancarkan dan kami berangkat di awal Ramadhan. Tujuan pertama kami bukan langsung ke Mekkah, tetapi ke Madinah terlebih dahulu dengan pesawat direct ke Madinah. Di perjalanan umroh kali ini, kami mendapat bonus, di mana biasanya 9 hari pulang-pergi, kami mendapat jatah 14 hari pulang-pergi. Tentu bersyukur sekali, atas semua yang kami dapatkan ini.
![]() |
| Madinah yang Cantik~ |
Pertama kali menginjakkan kaki di Madinah, MasyaAllah saya jatuh cinta sama kota ini. Kotanya rapi, nyaman, indah, dan entah lebih terasa tenang kehidupannya dibanding Mekkah yang ramai. Saat kami berada di sana, di Saudi sedang musim panas, jadi suhu di Madinah kalau siang-sore hari bisa mencapai 42 derajat selsius. Luar biasa lah pokoknya!. Makanya, untuk berlindung dari suhu panas ini, biasanya kami tidak pulang dari Masjid Nabawi dari waktu zuhur sampai buka puasa. Benar-benar di dalam Masjid Nabawi ini dingin sekali kontras dengan panasnya di luar.
Menjelang berbuka puasa, di Madinah dan Masjid Nabawi ramai sekali. Banyak warga lokal yang membagikan makanan dan minuman untuk berbuka. Mulai dari kurma, air mineral, roti, yoghurt, makanan ringan, nasi khas timur tengah, sampai sepaket ayam Al-Baik. Satu hal yang saya pelajari di sini, kalau sedekah jangan tanggung-tanggung, apalagi bulan Ramadhan. Hal yang menyenangkan berbuka puasa di Masjid selain makanan berlimpah ruah, adalah suasana ramainya. Jadi di setiap shaf shalat digelar plastik panjang untuk tempat makanan, kemudian makanan dibagikan masing-masing di depan kita. Setelah bagi-bagi makanan selesai, biasanya setiap orang saling mengingatkan untuk berdoa, karena menjelang berbuka puasa adalah waktu mustajab untuk berdoa. MasyaAllah.
![]() |
| Suasana Berbuka Puasa di Masjid Nabawi |
![]() |
| Sajian Berbuka Puasa Paling Umum: Roti, Yoghurt, Air, dan Kurma |
Setelah bermalam di Madinah, akhirnya rombongan kami menuju ke Mekkah untuk ibadah umroh dengan menggunakan bis sekitar 6 jam. Sebelumnya, kami berihram dari Bir Ali (miqat dari Madinah) sehingga selama di bis kami sudah dalam keadaan ihram dan tak hentinya berdzikir serta mengucapkan kalimat talbiyah. Kesan pertama memasuki kota Mekkah adalah ramai dan padaaat sekali~ jauh dibandingkan Madinah.
Rombongan kami tiba di Mekkah saat sudah shalat tarawih dan jadwal untuk rangkaian ibadah umroh adalah setelah shalat tarawih selesai. MasyaAllah, Alhamdulillah berarti thawaf di sepertiga malam! Alhamdulillah doanya dikabulkan oleh Allah. Benar-benar ga menyangka bisa kesampaian. Walaupun tidak bisa mendekat he hajar aswad karena penuh sekali (seperti saat haji) tapi sudah bersyukur banget, saat thawaf itu ngga susah, seperti ada jalannya di tengah kepadatan manusia.
![]() |
| Suasana Mathaf di Sepertiga Malam |
Suasana menjalani ibadah puasa di Mekkah tidak beda jauh dengan Madinah, sama-sama ramai, bahkan lebih banyak makanan dibagikan begitu saja. Saya sedang berjalan pun kadang ada yang memberi bungkusan makanan untuk berbuka. Alhamdulillah. Tapi, ketika adzan magrib, suasana Masjidil Haram lebih ramai dibanding Masjid Nabawi. Jadi untuk menghindari keramaian ini, biasanya saya naik ke atap Masjidil Haram menjelang buka puasa dan berdiam di atas sampai magrib tiba. Tapi, jangan coba-coba setelah ashar sudah naik ke atap, panasnyaaaa luar biasaa! hahaha.
![]() |
| Pemandangan Dari Atap Masjidil Haram |
Ada sebuah kejadian menarik ketika saya shalat tarawih di Masjidil Haram. Saat itu, saya berangkat agak telat dari hotel, jadi shaf shalat sudah sampai ke luar masjid dan jalan sudah ditutup. Akhirnya, saya hanya kebagian shalat di pelataran masjid dan tidak membawa sajadah. Saat itu ada seorang nenek-nenek di kursi roda dengan pengasuhnya yang ternyata TKW dari Indonesia. Saya digelarkan sajadah olehnya jadi memakai sajadah bersama dengan dia. Setelah shalat isya, mereka sepertinya ingin pindah tempat dan sembari si mbak pengasuh menyiapkan nenek itu, saya bantu lipatkan sajadahnya. Kemudian mereka pergi, tidak lama si mbak kembali ke saya dan berkata, "ini sajadahnya untuk kamu saja". Luar biasaaa kebaikan orang-orang di sini sungguh luar biasa. Hanya karena kami tidak membawa sajadah dan harus shalat di pelataran tanpa sajadah, Allah mengirimkan sajadah untuk kami :').
Pokoknya, perjalanan umroh pertama saya ini luar biasa, membuat saya ingin kembali dan kembali lagi ke tanah haram.
Ternyata, 14 hari perjalanan umroh ini tidak terasa. Tiba-tiba sudah harus pulang dan menjalani hari-hari seperti biasa. Sedih rasanyaaaa.... Tapi, InsyaAllah ada kesempatan lagi untuk pergi ke tanah haram, mudah-mudahan bisa berhaji atau umroh di 10 malam terakhir Ramadhan. Aaamiiin.







Komentar
Posting Komentar