"Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman surga" (HR. Bukhari & Muslim)
Taman surga yang dimaksud dalam hadist Rasulullah ini biasa kita sebut Raudhah, yang sekarang letaknya di dalam Masjid Nabawi. Bagi para jamaah umroh, ada yang kurang rasanya kalau belum mengunjungi Raudhah sekaligus melewati makan Rasulullah SAW. Ternyata... perjuangan menuju Raudhah ini ga mudah, apalagi untuk jamaah akhwat. Saat saya di sana, waktu ke Raudhah untuk jamaah akhwat ditentukan setelah subuh, setelah dzuhur, atau setelah isya.
Pintu ke Raudhah untuk jamaah akhwat hanya dari pintu 25 dan alhamdulillah setiap datang dan pergi saya selalu melalui pintu ini. Mudah-mudahan tidak sulit, pikir saya. Saat itu saya memilih ingin ke Raudhah setelah subuh, tapi di hari pertama masih gagal, karena begitu kagetnya melihat orang sikut-sikutan untuk masuk ke antrean ke Raudhah hahaha. Akhirnya, saya mengatur strategi, pokoknya saat shalat subuh harus dapat shaf sedepan mungkin supaya dekat dengan pintu menuju Raudhah, karena menuju Raudhah ini kita harus melewati pintu yang berlapis-lapis.
Baru mengantre di pintu pertama, desak-desakannya sudah.... luar biasa! Saat itu sulit sekali bernafas ditambah aroma tubuh orang-orang seluruh dunia jadi satu. Waktu itu nafasnya bagaimana? Paling mudah adalah mendongakkan kepala sambil berdzikir yang tidak pernah putus. Qodarullah, udara yang masuk ke hidung rasanya sejuuuuk sekali.
Saat pintu pertama dibuka, orang-orang langsung lari-lari berdesakan, entah saya pun tidak paham kenapa harus berdesak-desakan. Sedangkan saya dan mama berjalan santai menikmati arsitektur Masjid Nabawi yang sungguh indah. Tidak lama kami berjalan, kami disuruh menunggu lagi oleh askar Masjid Nabawi, karena untuk ke Raudhah harus antre, apalagi luasan Raudhah itu tidak begitu luas, jadi harus bergantian. Sebenarnya, di sini menunggu sambil duduk, tinggal menunggu antrean dipanggil. Bahkan, ada himbauan, salah satunya bahasa Melayu, untuk tenang. Tapiii entah kenapa orang-orang masih ada saja yang mengomel pakai bahasanya masing-masing.
![]() |
| Arsitektur Masjid Nabawi Sungguh Cantiiik |
Tidak lama menunggu, akhirnya dapat giliran menginjakkan kaki di Raudhah. Raudhah ini warna karpetnya hijau, beda dengan warna seluruh karpet Masjid Nabawi yang berwarna merah. Tanpa terasa, tau-tau saya menangis, pokoknya rasanya campur aduk. Kesempatan berada di Raudhah ini tidak lama, oleh karena itu saya harus tetap fokus berdoa padahal di belakang saya sudah didesak-desak orang. Qodarullah tidak sempat shalat dua rakaat karena sangat memungkinkan kepala kita terinjak orang saat itu. Jadi, cukup khusyuk berdoa saja.
Keluar dari Raudhah, pandangan saya terhadap dunia semakin luntur dan berubah. Saya bilang sama Mama, "Ma, ini baru ke taman surga ternyata perjuangannya sudah kayak gini. Apalagi kalau kita mau surga ya Ma?". Saat itu saya merinding se merinding-merindingnya, untuk apa masih mengejar dunia, padahal hidup kita yang sesungguhnya adalah di akhirat. Apakah yakin ibadah kita mendatangkan rahmat Allah untuk bisa masuk ke Surga-Nya?
![]() |
| Antrean ke Raudhah Kala Itu |


Komentar
Posting Komentar