Di bulan Agustus 2019 lalu, saya diberikan rezeki dari Allah yang luar biasa, yaitu dapat menyelesaikan studi di Manajemen Gas Universitas Indonesia. Perjalanan untuk bisa lanjut kuliah ini dimulai dari tahun 2016, di mana saat itu dengan mudahnya mendapatkan beberapa LoA dari beberapa universitas di Inggris. Setelah mengusahakan berbagai macam pembiayaan melalui beasiswa, lanjut kuliah ke Inggris belum menjadi rezeki saya.
Kesempatan untuk melanjutkan kuliah selalu terbuka lebar, pilihannya ada di diri kita, mau diambil atau tidak kesempatan itu. Akhirnya, di tahun 2017 saya mencoba tes SIMAK UI untuk program pasca sarjana. Tidak banyak berharap, hanya meyakini sepenuh hati, bahwa kalau memang jalan-Nya, maka saya akan keterima. Alhamdulillah, tahun 2017 saya resmi menjadi mahasiswa lagi.
Jurusan yang saya pilih pun tidak kalah asing dari jurusan S1 saya, yaitu sebuah program khusus namanya Manajemen Gas dari Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Banyak teman-teman yang heran dan bertanya, "kenapa teknik kimia? sedangkan yang lulusan S1 nya teknik kimia pun belum tentu mau S2 di teknik kimia". Jawaban saya sederhana, saya suka silabusnya, saya ingin belajar lagi, dan alhamdulillah Allah membuka jalan buat saya.
Selama dua tahun menjalani perkuliahan, sungguh saya bersyukur tidak jadi kuliah ke Inggris. Inilah jalan yang terbaik dari Allah. Dulu, kalaupun saya mau lanjut S2, saya mau punya teman-teman yang seru seperti di Metalurgi 2010, ternyata saya pun bertemu teman-teman yang seru juga di lingkungan S2 saya. Saya banyak mendapat ilmu baru dari para senior-senior teman kuliah yang tentunya sudah lebih lama terjun di dunia industri dibanding saya. Lebih serunya lagi, saat menjadi mahasiswa S2, kami bisa kunjungan idustri 2 kali, bahkan salah satunya sampai ke Luwuk!
Tentunya, pelajaran yang saya dapatkan juga seru. Banyak hal baru yang saya pelajari di Manajemen Gas ini, terutama mengenai industri migas di Indonesia dan dunia. Bahkan, di sini saya juga belajar tentang Energi Terbarukan yang semakin ke sini semakin ramai. Selain pelajaran di perkuliahan, keseruan lainnya adalah belajar manajemen waktu lebih baik lagi, karena memang harus disiplin dan kuat dalam menjalani hari-hari bekerja sambil kuliah.
Ujian sesungguhnya adalah ketika menjalani tesis. Sungguh mengerjakan tesis sambil bekerja itu menguras waktu, pikiran, tenaga, dan tentunya biaya hehehe. Banyak sekali tantangan yang harus dilalui, terutama "bagaimana menaklukan diri sendiri", karena kuncinya kalau mau tesisnya selesai adalah diri sediri. Menjalani bimbingan antara Kalibata-Depok (kantor-kampus) pun juga sebuah tantangan, di mana harus curi-curi waktu kerja atau menyesuaikan dengan waktu dosen pembimbing. Seringkali saya bimbingan jam 7 pagi sebelum bekerja, atau jam 12 siang saat istirahat harus naik KRL ke Depok.
Kalau dipikir ulang, rasanya ngga sanggup mengerjakan semua tanpa blessing dari Allah :').
Perjuangan ini juga akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan. Alhamdulillah sekitar bulan Juni 2019, saya dinyatakan lulus sidang dengan predikat (hampir) Summa Cumlaude dan menjadi peraih IPK tertinggi di angkatan saya. Walaupun tadinya menargetkan untuk dapat IPK sempurna, mengingat bagaimana susahnya kuliah sambil bekerja, rasanya pencapaian ini sudah cukup. Alhamdulillah :")
Jadi, bagaimana rasanya diwisuda untuk kedua kalinya di kampus yang sama?
Bahagia dan Bangga.
Tapi, untuk saat ini dua garis dulu cukup yah... Entah kapan mau atau ada kesempatan untuk tambah jadi tiga garis di baju toga hehehe.
Berikut sedikit dokumentasi saat wisuda kemarin:




Komentar
Posting Komentar